Budaya Bebas itu Creative Commons

Aku sendiri sebenarnya awalnya males banget nanggapin tulisan si Lawrence Lessig dalam bukunya “Budaya Besas” soalnya aku sendiri doyan donwnload MP3 ama Film bajakan di Internet… dan itu cukup alasan untuk malesbanget.com untuk buang energi membacanya.hehe.. Namun setelah sekian dalam dan sekian lembar aku membacanya baru aku ‘ngeh’ kalau buku ini merupakan titik tengah dari sebuah pertempuran antara si Pencipta dan si Pengguna, pengkopi, pembajak atau apalah namanya. Buku ini banyak menceritakan perjalanan panjang manusia untuk memahami bagaimana menghargai hak orang lain yang selain memiliki nilai estetis juga memiliki nilai ekonomis.

Pengaturan terhadap hak cipta diawali dari sebuah gagasan yang berbunyi seperti ini :  (h.20)

“Karya kreativitas itu punya nilai; kapan pun saya menggunakan, atau mengambilnya, atau membuat sesuatu berdasarkan karya kreatif orang lain, saya sedang mengambil suatu nilai dari para pencipta tersebut. Kapan pun saya mengambil sesuatu yang bernilai bagi orang lain, saya harus mendapat ijin dari orang tersebut. Mengambil sesuatu yang bernilai dari orang lain tanpa ijin adalah tindakan yang salah. Ini adalah salah satu bentuk pembajakan”

begitu kuat gagasan ini, sehingga membuat diskusi menjadi tidak berpihak pada nilai-nilai kreatifitas lagi, sehingga yang seharusnya karya kreatif hanya merupakan sebuah instrument dalam kehidupan budaya masyarakay yang begitu kreatif, malah menjadi absurd dan terkuatkan dengan gagasan di atas. Sehingga para konglomerat dan pemegang modal menjadi teruntungkan dengan diatas namakan kreatifitas mereka melegalkan monopoli kreatifitas dan meminggirkan bentuk-bentuk kreatifitas  kecil dan mula dari sebuah kreatifitas baru.

Lantas apakah kita harus membayar royalty atas penggunaan motif sarung Samarinda diatas desain baju koko atau gamis yang kita buat, ataukah kita harus membayar royalty setiap menjual sepiring  Nasi Kuning yang dijual Malam hari di Jl. Lambung Mangkurat

Dengan begitu, pertanyaan yang sulit bukanlah apakah sebuah budaya itu bebas. pertanyaan sulitnya adalah “Sebebas apakah budaya ini?” Seberapa banyak dan seberapa luas, budaya tersebut bebas untuk diambil dan dikembangkan orang lain?

Budaya bebas adalah budaya yang memberikan keleluasaan yang besar bagi orang lain untuk bisa membangun karya baru di atas karya lain; budaya tidak bebas, atau ijin, memberikan jauh lebih sedikit keleluasaan. Kebudayaan kita dulu adalah budaya bebas. Kini, ia semakin tidak demikian adanya. (h.33)

Untuk itu sebuah korporasi nirlaba yang didirikan di Massachusetts menggagas sebuah ide untuk membangun kembali budaya bebas. Mereka membuat Creative Common, yaitu semacam  jalan tengah untuk melerai pertikaian ekstrim antara hukum hak cipta yang mengkebiri kreatifitas dan para pembajak yang selalu mengambil keuntungan dari para penemu (hal. 334) dan untuk lengkapnya apa itu Creative Common saudara-saudaraku bisa baca aja langsung di bukunya  Lawrence Lessig “Budaya Bebas” … bisa di download di Sini loh..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s