Suyono Blog

Jejak Pemikiran, Motivasi dan Semangat Hidup

Pacaran No, Cinta Yes

Orang jawa bilang “Tresno jalarane soko kulino” atau Cinta datang karena terbiasa. Waktu dulu sebenarnya istilah ini banyak digunakan orang tua untuk menasehati anaknya yang enggan menikah karena dijodohkan orang tuanya. Mengapa demikian? Karena jaman dulu budaya kita belum mengenal budaya pacaran atau menjalani hubungan percintaan sebelum menikah. Kebanyakan apabila orang ingin menikah, biasanya dikenalkan langsung oleh orang tua mereka dan langsung dijodohkan, dan lalu mengapa orang tua menasehati demikian bagi anaknya yang tidak mau dinikahkan? Karena orang tua jaman dahulu juga menyakini bahwa belajar mencintai setelah menikah itu jauh lebih aman dan bertanggung jawab dibanding belajar cinta sebelum menikah. Itulah landasa awalnya.

Dalam konteks saat ini, anak muda tentunya sudah punya pendapat lain, bahwa jodoh harus dicari dan diusahakan, selain itu juga saat ini anakmuda tidak suka dijodohkan “Ini bukan jaman Siti Nurbaya lagi”. Namun alangkah baiknya bila kita sedikit mengulas kearipan zaman dulu tersebut sebelum membenarkan argumen sekarang yang belum tentu tepat. Pertama kita sebelumnya harus tau dulu, apa itu pacaran, bagaimana berpacaran dan untuk apa berpacaran. Kok ribet yaa..pacaran saja harus demikian. Yah itulah kita, kita seringkali berbuat sesuatu tanpa alasan dan ketika perbuatan itu membuat bingung dan susah, kita cenderung menyalahkan kejadian itu bukan mengoreksinya, mengapa itu terjadi. Sesuatu yang sulit dan ruwet dilakukan kebanyakan karena kita tidak tau ilmunya dan tak tau cara melkukanya.

Menurut definisi penulis Pacaran merupakan proses saling mengenal dan mendalami pasangan sebelum menikah. Atau dengan kata lain pacaran adalah media untuk memahami cinta yang dimiliki. Tentunya karena dia sebuah media, dia hanya sebagai tangga menuju sebuah tujuan yang lebih kongkrit dan legal. Yaitu penikahan.

Namun seringkali pacaran dianggap sebuah media untuk menumpahkan rasa cinta yang terlalu berlebihan dan mengumbar harapan yang tidak mendasar. Contohnya. Ketika pacaran kita seringkali tidak menyadari bahwa pacar kita adalah seseorang yang belum tentu jodoh kita. Karena itu kita bijaknya tidak lantas mengumbar perasaan terlalu jauh, sampai-sampai berkomitmen hidup mati. Padahal secara legal formal itu merupakan komitmen yang tidak mendasar, karena belum menikah. Berbeda kiranya bila kita sudah menikah, maka kita sudah harus bertanggung jawab sepenuhnya dan mencintai sepenuhnya. Itulah yang menyebabkan mengapa kebanyakan pasangan suami istri kehilangan moment percintaan mereka dan cenderung dingin setelah menikah. Karena mereka sudah sangat puas merasakan madunya cinta sebelum menikah dan merasa pernikahan adalah garis finis dari masa romantis mereka. Kondisi demikianlah yang membuat Pacaran hanya menjadi ajang meluapkan rasa penasaran anak muda yang beranjak puber dan ingin lebih tau apa rasanya cinta.Perasaan itu sah-sah saja dan tidak dilarang, karena sudah waktunya, namun harus di tuangkan dalam kerangka yang benar dan positif agar perasaan itu tidak menjadi liar dan tak terarah. Contoh tidak sedikit di televisi kita menyaksikan sebuah hubungan pacaran yang liar, seperti ada anak gadis dibawa lari teman facebook-nya, ada pula kawin lari, atau bahkan gantung diri. Ini merupakan praktek negatif dari perasaan cinta yang membabi buta yang tidak terkendali.

Terakhir, untuk apa kita berpacaran? Terkadang anak muda sendiri tidak tau untuk apa mereka pacaran, yang mereka tau bahwa nalurinya mengatakan lagi senang dengan seseorang, dan seseorang tersebut mengajaknya pacaran dan kemudian berjalanlah pacaran itu sendiri. Mereka tidak memiliki muara yang jelas untuk di tuju. Mengalir saja kata mereka. Inilah letak kebingungannnya. Pacaran tanpa tujuan adalah perbuatan konyol dan sia-sia. Seperti mengerjakan tugas tanpa tau menyelesaikan tugas itu kemana. Jadi menjalani hubungan pra nikah haruslah bertujuan ingin mengetahui lebih dalam pasangan kita, bila ini tidak tercapai itu adalah sia-sia. Seperti contohnya ada orang yang sudah pacaran 2 tahun tak tau apa sebenarnya warna kesukaan pasangannya dan apa yang membuat pasangan kita marah. Itu sangat konyol.

Jadi bisakan sebenarnya kita mencintai tanpa lewat jalur pacaran, …bisa…. Cukup dengan bersahabat dan membuktikan cinta kita pada orang yang kita cintai, itu sudah cukup. Karena cinta tidak butuh legal formal seperti status pacar, teman, sahabat. Itu hanya status. Namun bila dia sudah mengenai seseorang dia akan lebih terasa di hati. Bukan dikomitmen lemah di ”lembaga” pacaran. Ujar nenek kakek kita dulu. ”Nukah aja langsung, jauh lebih aman. Pacaranya bisa nanti”

Single Post Navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.